Kenapa Seseorang Bunuh Diri?

Bagikan ya :

Saat ini rasanya kita sudah terbiasa mendengar berita tentang bunuh diri karena begitu banyaknya kasus bunuh diri belakangan ini, memang memprihatinkan dan hal tersebut sungguh sangat disayangkan.

Banyak orang mengambil jalan pintas untuk mengakhir problemnya dengan mengakhiri juga hidupnya. Dan orang sudah tidak takut lagi melakukan bunuh diri. Alasan seseorang bunuh diri begitu pribadi dan tidak bisa diketahui, namun meresahkan.

Bunuh diri merupakan masalah yang kompleks karena tidak diakibatkan oleh satu penyebab atau alasan tunggal. Tindakan Bunuh diri merupakan interaksi yang kompleks dari faktor biologik, genetik, psikologik, sosial, budaya dan lingkungan. Sulit untuk menjelaskan mengenai penyebab mengapa orang memutuskan untuk melakukan bunuh diri, sedangkan yang lain dalam kondisi yg sama bahkan lebih buruk tetapi tidak melakukannya. Meskipun demikian, tindakan bunuh diri atau percobaan bunuh diri pada umumnya dapat dicegah.


Beberapa Pemicu Bunuh Diri
Meskipun alasan orang yang melakukan bunuh diri berbeda-beda, peristiwa-peristiwa tertentu dalam kehidupan pada umumnya memicu bunuh diri. Berikut ini beberapa alasan utama yang memicu seseorang sampai melakukan bunuh diri:

Masalah sekolah
Beberapa remaja bahkan sering bunuh diri karena masalah nilai di sekolah yang buruk, stres karena ujian, atau khawatir dengan masa depannya.

Masalah keluarga
Beberapa remaja dalam keluarga yang berantakan, lebih rentan bunuh diri. Selain itu, beberapa kasus bunuh diri juga dipicu karena problem dalam perkimpoian.

Problem pekerjaan dan finansial
Bagi orang dewasa, kebanyakan kasus bunuh diri karena problem finansial maupun masalah pekerjaan. Usaha yang bangkrut, ataupun karena dipecat dari pekerjaan, membuat mereka tidak berani menghadapi masa depan dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Penyakit
Bagi beberapa orang yang menderita penyakit yang tak kunjung sembuh, juga akhirnya mengambil tindakan untuk bunuh diri. Atau kaum lansia yang sudah tak sanggup lagi menanggung penderitaan akibat penyakit fisik, memilih bunuh diri.


Memang tidak semua orang memilih untuk bunuh diri
Bahkan sebagian besar orang mampu menghadapi problem yang bahkan jauh lebih berat, tanpa perlu bunuh diri. Jika demikian, mengapa ada orang-orang yang memandang bunuh diri sebagai jawaban untuk masalah mereka? berikut penjelasannya.


Faktor Penyebab Bunuh Diri
Banyak keputusan untuk bunuh diri bisa jadi bergantung pada cara menyikapi berbagai peristiwa. Banyak orang dapat menanggung depresi yang berat sekalipun selama mereka yakin bahwa keadaan akan membaik. Jika pikiran tetap dijaga positif dan sehat, tidak akan menyikapi peristiwa apa pun sebagai sesuatu yang begitu menghancurkan. Itu sebabnya banyak orang berhasil menanggulangi depresi dan tidak sampai bunuh diri.

Namun tekanan dan problem seperti rem pada kendaraan. Jika ditekan terus menerus, rem bisa menipis. Demikian juga mental seseorang, jika tekanan terus menerus dan bertubi-tubi, serta keputusasaan yang menumpuk, hal ini bisa mengikis kesanggupan sistem mental seseorang untuk menahan dorongan bunuh diri. Kemampuan mental untuk berpikir positif secara perlahan melemah dan memperkuat keinginan bunuh diri.

Selain itu, terdapat juga faktor-faktor lainnya yang membuat seseorang mengambil tindakan bunuh diri. Berikut ini beberapa faktor tersebut:

Gangguan mental
Beberapa gangguan mental seperti gangguan bipolar dan skizofrenia menyebabkan seseorang memiliki dorongan yang lebih kuat untuk bunuh diri.

Kecanduan
Beberapa kasus bunuh diri dilakukan oleh mereka yang memiliki kebiasaan menggunakan narkoba dan alkohol.

Bawaan genetik
Beberapa orang mewarisi gen dengan emosi yang lemah dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa garis keluarga terjadi banyak kasus bunuh diri. Anggota keluarga yang salah seorang di garis keturunannya pernah bunuh diri, lebih berisiko melakukan bunuh diri.

Kondisi otak
Otak kita memang unik. Susunan kimiawi otak bisa membuat seseorang lebih kuat dalam menghadapi problem. Kadar serotonin yang rendah khususnya di dalam otak, dapat membuat mood seseorang menjadi buruk, membuat tidak bahagia, mengurangi minat seseorang pada keberadaannya, dan berisiko menjadi depresi dan bunuh diri.

Semoga info ini bermanfaat ya Veroholic :)


source

Bagikan ya :